Banyak berita indonesia, opini masyarakat, komentar selebritis mengenai kematian mbah maridjan, letusan gunung merapi dan pandangan mereka menghadapi bencana alam dan hidup mati manusia.
Berawal dari keprihatinan saya melihat sebuah acara infotainment di sebuah televisi swasta, di situ ada petikan komentar dari seorang tokoh nasional praktisi kejawen (langsung sebut nama aja: Permadi).
Dengan tegas dia berspekulasi bahwa sebagai sosok seorang juru kunci gunung merapi, mbah maridjan telah kehilangan kepekaan sehingga kurang dapat menerima isyarat alam dari penunggu gunung merapi akan terjadinya letusan. Dalam hal ini penunggu merapi adalah mbah petruk dll.
Sontak telinga saya terasa panas, dalam bathin saya bergejolak. Saya tidak terima, mbah maridjan yang jauh dari istilah keduniawian mesti di “judge” sedemikian rupa. Paling tidak, mbah maridjan bukan seorang pencari sensasi.
Bila di cermati dengan sungguh, mbah juru kunci yang tinggal di dusun kinahrejo ini. Telah memberikan isyarat agar masyarakat sekitar mengikuti saran pemerintah untuk menghindari letusan gunung berapi.
Sedangkan simbah maridjan sendiri, memang lebih memantapkan hati untuk tetap berada di rumah. Menyongsong kedatangan awan panas, bukan untuk menunjukkan dia orang sakti kebal terhadap lahar, lava, maupun awan panas. Tetapi tunduk terhadap isyarat ghaib tentang gunung merapi.
Saya merasa, semua komentar itu terjadi karena pandangan seseorang tentang kehidupan dan kematian manusia. Apakah orang meninggal akibat awan panas dan letusan merapi, sedangkan orang tersebut mengetahui kedatangannya adalah mati konyol ? Apakah mbah maridjan seorang korban ?
Bagi orang awam, kematian karena bencana adalah sesuatu yg menakutkan. Tapi saya menganggap, kematian mbah maridjan merupakan kematian seorang ksatria yang gugur dalam medan laga. Dia tidak mati dengan badan yg melekat di aspal panas karena melarikan diri.
Mbah Maridjan mati sujud. Apakah hal ini masih menjadikan keraguan bahwa dia telah menyongsong kehadiran junjungannya ?
Ibarat nahkoda kapal, andaikan mesti meninggalkan kapal, nahkodalah yang terakhir turun. Dan itupun telah di lakukan oleh seorang mbah maridjan. Seorang juru kunci yang memiliki pemahaman dalam tentang arti kata kesetiaan, terima kasih dan jiwa besar.
Mungkin seorang martyr alam seperti mbah maridjan telah mati. Tapi kematiannya adalah sebuah awal dari bangkitnya jiwa jiwa besar manusia yang hidup untuk menghargai dan selaras dengan Alam.
Short URL for this post: http://bit.ly/aAlpNp


